Jakarta, CNN Indonesia --
Pengamat intelijen Ridwan Habib menyarankan adanya pusat data gabungan intelijen yang melibatkan badan-badan intelijen di Indonesia.
Ridwan beralasan joint intelligence diperlukan Indonesia di tengah tidak menentunya dinamika global saat ini.
"Saya kira sangat, sangat seksi dalam dinamika hegemoni global yang makin tidak menentu seperti ini. Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mencoba mencari satu formula supaya antarlembaga intelijen ini makin saling menguatkan," kata Ridwan dalam Seminar Intelijen Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, di Gedung IASTH, Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Rabu (15/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah ini dengan dinamika seperti ini, keamanan, kerawanan, maka sudah saatnya saya kira joint intelligence ini kita munculkan narasinya," imbuhnya.
Ridwan mencontohkan negara-negara lain yang sudah berhasil menyingkirkan ego sektoral di antara lembaga-lembaga intelijen, yakni dengan membuat data center.
"Kalau kita lihat beberapa negara ya, tadi aku sempat nyatet, ego sektoral itu sudah bisa diatasi dengan model data center sebenarnya. Australia misalnya, itu ada Office of National Intelligence. Dia menggabungkan data center dari 10 lembaga, termasuk dari ASIO. Jadi clearance itu bisa dilakukan. Kalau Anda punya clearance, Anda bisa ngakses data. Kalau sekarang kan belum ada di kita," katanya.
"Itu termasuk juga dilakukan di Singapura dengan National Security Center-nya. Kemudian di Jerman juga mempunyai yang disebut dengan NADIS. Di NADIS ini semua lembaga intelijen termasuk lembaga intelijen federal, negara bagian, provinsi-provinsi, itu kemudian menyetorkan data yang sama di satu platform yang sama," sambungnya.
Namun, Ridwan juga tak menampik dalam pelaksanaannya ada kompartementasi, yakni dalam menjalankan tugas dan fungsinya, aktivitas intelijen terpisah satu sama lain, dan hanya diketahui oleh unit yang bersangkutan.
Ia menegaskan lembaga-lembaga intelijen harus tetap menjalankan asas tersebut bahkan setelah data center dibuat.
"Yang tidak boleh tahu kan begini, Anda orang BAIS, Anda melakukan operasi BAIS, tapi Anda cerita-cerita, misalnya Anda cerita-cerita ke BIN atau cerita-cerita ke Baintelkam, 'BAIS lagi operasi nih, seksi bos kami di sini, targetnya ini'. Nah ini enggak boleh. Ini melanggar kompartementasi," ujarnya.
Ridwan mengatakan tujuan pembuatan data center untuk efisiensi pembagian tugas antarlembaga.
"Tujuannya apa? Supaya tidak terjadi overlapping data. Kadang-kadang di lapangan, targetnya sama, yang operasi 4 lembaga, 5 lembaga. Misalnya, BSSN operasi, eh intelijen Kejagung operasi, BAIS operasi, BIN operasi, Baintelkam operasi, targetnya sama misalnya, tentang penyelundupan narkoba di sebuah wilayah Indonesia, misalnya demikian. Ya itu waste of resources menurut kami," ujarnya.
Terdapat sejumlah lembaga intelijen di Indonesia, seperti BIN, BAIS TNI, Baintelkam Polri, Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejagung, dan unit intelijen lainnya di kementerian dan lembaga.
(fra/fam/fra)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
4
















































