Siswi Makassar Dicoret dari Calon Paskibraka, BPIP Buka Suara

4 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) membantah isu diskriminasi atau SARA di balik proses seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional berlangsung profesional dan objektif.

Pernyataan tersebut merespons polemik siswi peserta seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Cathlyn Yvaeni Lesmana yang gagal masuk tiga besar perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel) usai dicoret dalam seleksi tingkat nasional.

Direktur Penyelenggaraan Program Paskibraka BPIP Pusat Fuad Lutfi memastikan tidak ada unsur rasisme dan diskriminasi di balik pencoretan nama Cathlyn seperti yang beredar di media sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seluruh peserta memiliki kesempatan yang sama dan dinilai berdasarkan indikator seleksi yang telah ditetapkan secara nasional," kata dia, Kamis (28/5)

Ia pun menjelaskan soal isu penggunaan bahasa daerah dalam sesi wawancara yang sempat menjadi sorotan publik. Kata Fuad, pertanyaan mengenai kemampuan bahasa daerah bukan bagian dari komponen penilaian yang menentukan kelulusan peserta.

Fuad menyebut hal itu hanya bagian dari dialog pewawancara untuk melihat kemampuan dan wawasan peserta secara umum, karena akan mewakili daerahnya.

"Yang penting ditegaskan, seluruh proses harus dilihat secara utuh dan proporsional, tidak hanya berdasarkan potongan informasi yang beredar di media sosial," tuturnya.

Lebih lanjut, Fuad menyebut seluruh tahapan seleksi di Sulsel sudah sesuai prosedur baku. Proses tersebut, kata dia, berjalan ketat dengan melibatkan pemda, panitia seleksi provinsi, hingga tim monitoring dari pusat.

"Pada prinsipnya seleksi Paskibraka di Sulawesi Selatan dilaksanakan sesuai mekanisme nasional yang berlaku. Itu melibatkan unsur pemerintah daerah dan tim seleksi pusat," kata Fuad.

Fuad menerangkan tidak hanya satu aspek tertentu saja yang dinilai dalam proses seleksi Paskibraka, seperti nilai akademik atau tes wawasan kebangsaan semata. Kata dia, proses penilaian dilakukan secara menyeluruh untuk melihat kesiapan peserta sebagai calon pelaksana tugas kenegaraan.

"Paskibraka bukan sekadar mencari peserta dengan nilai tertinggi pada satu tes saja, melainkan memilih figur paling siap secara keseluruhan untuk menjalankan tugas kenegaraan," ujarnya.

Fuad membeberkan ada banyak komponen yang menjadi dasar penilaian, mulai dari kesehatan, kesamaptaan, peraturan baris-berbaris (PBB), kepribadian, wawasan kebangsaan, hingga kesiapan mental dan disiplin peserta.

Seleksi pun dilakukan berjenjang mulai tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga verifikasi nasional. Lalu, dari setiap provinsi, kata dia, dipilih tiga pasang peserta yang selanjutnya mengikuti tahapan seleksi pusat.

"Memang nanti ada pe-ranking-an atau akumulasi nilai dari seluruh tahapan seleksi. Akumulasi nilai tertinggi itulah yang menjadi pertimbangan untuk diutus mengikuti seleksi tingkat pusat," ucap dia.

Fuad juga menyampaikan keputusan peserta yang mewakili daerah ke tingkat nasional tidak ditentukan oleh satu orang maupun satu lembaga saja. Melainkan hasil penilaian kolektif lintas unsur sesuai pedoman nasional BPIP.

Menurut dia, pemerintah provinsi hanya memfasilitasi pelaksanaan seleksi tingkat provinsi melalui panitia seleksi daerah. Namun, untuk penentuan peserta menuju tingkat nasional terdapat keterlibatan langsung unsur pusat, yakni BPIP dan DPPI Pusat serta Sekretariat Militer Presiden (Setmilpres).

"Keputusan tidak ditentukan satu orang atau satu lembaga saja. Ini hasil penilaian lintas unsur sesuai pedoman nasional," katanya.

BPIP meminta masyarakat tetap menghormati seluruh peserta yang telah mengikuti proses seleksi dan tidak membangun opini yang berpotensi memecah persatuan. Ia menambahkan seluruh peserta yang mengikuti seleksi merupakan putra-putri terbaik bangsa yang patut diapresiasi atas semangat, disiplin, dan pengabdiannya.

Sebelumnya, Sekretaris Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman juga membantah isu diskriminasi di balik seleksi Paskibraka yang mencoret Cathlyn.

"Itu kondisinya memang, kalau menurut penjelasan yang menangani, itu sejak seleksi untuk calon peserta ke Jakarta, ada nilainya yang peserta nomor satu lebih tinggi dari ini, si Cathlyn," kata Jufri kepada wartawan, Selasa (26/5).

Jufri membantah adanya istilah dianulir dalam proses tersebut. Penganuliran hanya bisa terjadi jika peserta sudah diumumkan lolos lalu kemudian dibatalkan, sementara kasus ini masih berada dalam tahapan seleksi yang berjalan.

"Tidak ada yang namanya dianulir. Dianulir itu kalau sudah diumumkan lalu dibatalkan. Ini kan masih on going process, masih proses berjalan," jelasnya.

(dis/dal)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Infrastruktur | | | |