Jejak Ulta Levenia, Deputi Bakom RI, dan Teori Konspirasinya

2 hours ago 14

Jakarta, CNN Indonesia --

Ulta Levenia Nababan kembali menjadi sorotan setelah mengaitkan erupsi sejumlah gunung api di Indonesia dengan proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) milik Amerika Serikat.

Dalam unggahannya, Ulta mengawali narasi dengan mengakui kemungkinan bahwa rangkaian bencana alam tersebut memang terjadi secara natural.

"HAARP atau Beruntun bencana alam ini mungkin memang terjadi secara natural, memang kejadian alam yang harus kita terima," tulis Levenia dalam unggahan Instagram pada Senin (7/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengaku memiliki pemikiran skeptis sehingga membuka kemungkinan lain yang menurutnya dapat digolongkan sebagai teori konspirasi.

Ulta kemudian menyebut proyek HAARP yang menurutnya kerap dikaitkan dengan teori konspirasi. Ia menyinggung keterlibatan sejumlah lembaga Amerika Serikat dalam pendanaan proyek tersebut, termasuk US Air Force, US Navy, dan Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA).

"HAARP ini sering dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Walau tidak ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi," tulis Ulta.

Hal tersebut menjadi alternatif pemikiran Ulta mengenai rentetan bencana alam yang terjadi di Indonesia.

Ulta kemudian mengaitkan keberadaan HAARP dengan kepentingan militer dan geopolitik Amerika Serikat. Menurut Ulta, penggunaan energi radio frekuensi tinggi untuk penelitian ionosfer tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai alasan fasilitas itu dibangun di Alaska.

"Kenapa ada gap conspiracy ini tentang Project HAARP, karena kalau dilihat dengan kaca mata geopolitik dan intelijen, Project HAARP berkaitan dengan penelitian eksploitasi ionosfer dan menggunakan energi radio frekuensi tinggi yang awalnya berpusat di Alaska. Kemudian menimbulkan pertanyaan: untuk apa militer Amerika membangun pemancar radio yang sangat kuat di Alaska?" kata Ulta.

HAARP adalah program penelitian ionosfer (lapisan atmosfer yang terionisasi karena menyerap radiasi Matahari). Program ini bertujuan untuk menganalisis ionosfer untuk kemajuan teknologi. Namun sejak Agustus 2015, kepemilikan dan operasional seluruh fasilitas riset ini telah dialihkan sepenuhnya kepada University of Alaska Fairbanks (UAF).

Dari pembahasan mengenai HAARP, Ulta kemudian menghubungkannya dengan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok pada 3 September.

"Walau enggak ada bukti ilmiah yang kredible, tapi otak skeptis pasti berfikir atau setidaknya entertain pemikiran, 'Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, 6 Gunung Vulkanik Indonesia Erupsi secara bersamaan?'" lanjutnya.

Ulta juga menyebut bahwa kecurigaan serupa, menurutnya, bukan hanya muncul dari dirinya.

"Yang curiga tentang ini bukan saya sendiri pasti, Jepang, China, dan Turkiye pernah punya kecurigaan yg sama," tulis Ulta.

Pernyataan tersebut kemudian menuai sorotan karena menghubungkan aktivitas gunung api dengan teknologi HAARP tanpa bukti ilmiah yang kredibel.

Ahli bantah erupsi gunung berapi hasil rekayasa teknologi

Ahli telah membantah kaitan antara HAARP dan aktivitas gunung berapi.

Pakar Vulkanologi dari Fakultas Geografi UGM, Agung Harijoko meyakini fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia, termasuk Gunung Anak Krakatau bukan disebabkan rekayasa teknologi atau narasi konspirasi lainnya.

Agung menjelaskan erupsi gunung berapi yang ia pahami adalah proses geologi. Erupsi terjadi ketika tekanan gas dan magma di dalam perut bumi meningkat hingga mendesak keluar melalui retakan kerak bumi atau kawah gunung berapi.

"Jadi tidak ada kaitannya dengan teknologi frekuensi atau apa itu ya. Belum ada buktinyalah kalau mau dikatakan seperti itu. Jadi tetap kalau saya percaya itu proses alami, proses geologi," kata Agung saat diskusi di UGM, Sleman, DIY, Rabu (9/9).

Bahkan, bagi Agung, fenomena enam gunung berapi mengalami erupsi atau aktif dalam waktu berdekatan juga sangat memungkinkan dijelaskan secara ilmiah.

Agung mengacu pada fenomena erupsi enam gunung di Indonesia yang hampir bersamaan belum lama ini. Mereka adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur dan Gunung Sinabung di Sumatera Utara.

"Sangat bisa (erupsi dalam waktu berdekatan), karena mereka punya sistem sendiri-sendiri. Jadi bukan artinya gunung sini memengaruhi yang lain, itu tidak. Tapi memang mereka kebetulan kondisi di masing-masing gunung api itu memang sudah memungkinkan untuk terjadi erupsi," ungkapnya.

Spekulasi Ulta lainnya

Sementara itu, narasi Ulta mengenai HAARP juga tidak berdiri sendiri. Dalam salah satu episode podcast di akun YouTube Bukan Kaleng Kaleng, Ulta menghubungkan sejumlah peristiwa alam dan politik dengan dugaan adanya orkestrasi tertentu.

Ulta sempat menyinggung gempa di Turki dan China yang disebutnya terjadi setelah kedua negara tersebut mengalami gesekan dengan Amerika Serikat. Ia kemudian mengaitkan sejumlah gejolak di Indonesia, termasuk Aceh, Papua, dan Kalimantan, serta demonstrasi mahasiswa.

"Sehingga gue agak, mungkin sekitar 73,5 persen gue kayak, nah ini pasti ada yang orkestrasi deh gitu," ujar Ulta dalam podcast yang tayang pada 27 Agustus.

Dalam narasi terbarunya, pemikiran tersebut kembali digunakan untuk menghubungkan pertemuan Prabowo-Putin, aktivitas gunung api, dan HAARP.

Sementara itu, di tengah polemik tersebut, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Dudung Abdurachman menegaskan Ulta Levenia Nababan sudah tidak lagi menjadi bagian dari KSP.

Dengan demikian, pernyataan Ulta mengenai HAARP dan dugaan kaitannya dengan erupsi gunung api tidak dapat dianggap sebagai sikap resmi KSP maupun pemerintah.

"Ulta sudah bukan di KSP lagi. Dulu dia di staf KSP sebagai tenaga ahli utama, tetapi sekarang sudah tidak. Dia sekarang salah satu deputi di Bakom," ujar Dudung di Gedung Bina Graha, Kamis (10/9).

Dudung juga menegaskan tidak ada indikasi keterlibatan pihak luar dalam rangkaian fenomena alam di Indonesia.

"Menurut saya, tidak dikaitkan dengan apalagi kepentingan dengan pihak luar dan sebagainya," katanya.

[Gambas:Instagram]

(van/fra)

Read Entire Article
Infrastruktur | | | |