Nyi Ageng Serang, Pahlawan Nasional Penasihat Perang Diponegoro

14 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Nyi Ageng Serang (1762-1855) adalah salah satu tokoh perempuan yang diangkat jadi pahlawan nasional dari perjuangan mengangkat senjata melawan kolonial sebelum abad ke-20.

Putri atau Nyi yang juga pemuka agama perempuan keturunan Sunan Kalijaga itu memainkan peran krusial dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan kolonial Belanda sebagai penasihat strategis Pangeran Diponegoro.

Mengutip dari buku Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 karya sejarawan Peter Carey, Nyi Ageng Serang memiliki pengaruh besar di Serang-Demak dalam mengobarkan perang melawan kolonial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kecakapannya dalam berperang turut andil membuatnya jadi penasihat perang Diponegoro.

Bukan hanya penasihat, dia juga ditugasi Pangeran Diponegoro memimpin pasukan dalam Perang Jawa itu. Usia Nyi Ageng Serang tak lagi muda saat terlibat dalam perang tersebut, malah sudah tergolong lansia.

Mengutip dari Ensiklopedia Pahlawan Nasional repositori Kemendikdasmen, pasukan di bawah kepemimpinan Nyi Ageng Serang pernah ditugaskan Diponegoro untuk mempertahankan daerah Prambanan.

Ketika itu Nyi Ageng Serang sudah tua, sehingga terpaksa dibawa dengan tandu.

Dalam berperang Nyi Ageng Serang menggunakan teknik gerilya benteng pendem 'daun lumbu' atau daun keladi hijau. Pasukannya berkerudung daun lumbu, sehingga dari kejauhan tampak seperti tanaman keladi, namun bila musuh mendekat diserang habis-habisan.

Syiar Islam

Nyi Ageng Serang tak cuma berperang, dia juga ikut mengajarkan ajaran Islam seperti Pangeran Diponegoro.

Selain melakukan tasawuf setelah kembali ke Serang--sebelum Perang Diponegoro--jelang akhir hayatnya dia dilaporkan juga memilih tinggal di desa di Kulon Progo untuk mengajar ilmu dasar agama Islam dan baca Alquran pada masyarakat sekitar.

Bukan hanya dikenal sebagai keturunan Sunan Kalijaga, Nyi Ageng Serang juga merupakan nenek dari RM Soewardi Surjaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara-salah satu dari tiga serangkai pelopor pergerakan nasional.

Negara kemudian menjadikan Nyi Ageng Serang sebagai pahlawan nasional lewat SK Presiden No.084/TK/1974 pada 13 Desember 1974.

Perjuangan Nyi Ageng Serang

Perempuan yang lahir dengan nama Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi itu adalah putri dari Pangeran Natapraja, seorang penguasa daerah Serang di Jawa Tengah.

Ayahnya merupakan Bupati Serang, terletak 14 km sebelah utara Kota Solo. Kmudian Pangeran Natapraja diangkat menjadi Panglima Perang Sultan Hamengku Buwono I.

Kiprah Nyi Ageng Serang melawan kolonial Belanda sebetulnya bukan cuma di masa tua bersama Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Saat ayahnya menjadi Panglima Perang Sultan HB I, Nyi Ageng Serang juga turut bertempur melawan Belanda dalam Perang Giyanti.

Mengutip dari laman Museum dan Cagar Budaya Vredeburg di Yogyakarta, "Sewaktu terjadi pertempuran antara VOC dengan pasukan ayahnya (Notoprojo) yang menolak perjanjian Giyanti (1755), gugurlah putra Pangeran Notoprojo yang selanjutnya Pangeran Notoprojo mempercayakan tampuk kepemimpinan pada putrinya, Nyi Ageng Serang."

Dalam salah satu pertempuran yang dipimpinnya, pasukannya kalah jumlah dan persenjataan hingga Nyi Ageng Serang ditangkap prajurit VOC.

Setelah dibebaskan Belanda, beberapa waktu kemudian Nyi Ageng Serang--yang pernah menikah dengan Sultan Hamengku Buwono II--kembali ke Serang.

Kemudian, ketika Pangeran Diponegoro mengumandangkan perang melawan Belanda, Nyi Ageng Serang bersama dengan suaminya yang kedua, Pangeran Kusumawijaya, menjawabnya dan memimpin pasukan.

Dalam medan pertempuran tersebut, Nyi Ageng Serang harus menelan pil pahit dengan kehilangan suaminya.

Pada sisa usianya yang sudah lanjut, didampingi cucunya yakni Raden Mas Papak, Nyi Ageng Serang terus berjuang dalam Perang Jawa bersama Pangeran Diponegoro.

Nyi Ageng Serang wafat pada usia 76, dan sesuai wasiatnya, dia dimakamkan di Desa Beku, Kabupaten Kulon Progo. Kini di tengah kota Wates, Kulon Progo, monumen Nyi Ageng Serang sedang menaiki kuda seraya membawa tombak menjadi pengingat akan kepahlawanannya.

Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah

(kna/kid)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Infrastruktur | | | |